Awal Tahun, Awal Kesadaran: Kita Semua Akan Kembali Tim Redaksi, 29/06/2025 Pesan Dakwah Prof Veni Hadju AWAL tahun baru hijriah 1447 ini dibuka dengan rasa duka yang mendalam. Di saat sebagian orang bersiap menatap lembaran baru kehidupan, Allah justru memanggil pulang salah satu hamba-Nya yang mulia: KH. M. Arif Marzuki –rahimahullah–, pendiri dan pembina utama Pesantren Darul Istiqamah. Pada 30 Dzulhijjah, pukul 04.00 dini hari, beliau berpulang dalam usia 83 tahun, dalam keadaan tenang, menjelang waktu fajar – waktu yang selalu beliau jaga sepanjang hayatnya. Kami semua merasa sangat kehilangan. Masih terasa hangat petuahnya, masih terdengar suara khasnya saat melantunkan ayat demi ayat Al-Qur’an dari hafalannya yang sempurna. Kami rindu kajian tafsirnya yang penuh hikmah, rindu suaranya yang merendah saat menyampaikan kebenaran, dan rindu nasihat-nasihatnya yang lembut namun menggetarkan hati. Tapi semua rindu itu kini harus kami simpan, karena hakikat kehidupan memang tak lain kecuali perjalanan panjang MENUJU ALLAH. Beliau pergi dengan meninggalkan jejak amal yang luas: pesantren yang hidup, santri-santri yang tersebar, masjid yang ramai, dan ajaran yang tak akan sirna. Beliau tidak hanya membangun tempat, tapi membentuk manusia. Kepada kami, para santrinya, beliau selalu menekankan pentingnya berdakwah dengan kasih sayang, bersikap lapang pada perbedaan, mencintai Al-Qur’an, dan hidup dalam ketaatan. Beliau mengajarkan bahwa berdakwah bukan sekadar lisan, tapi juga tindakan, keteladanan, dan konsistensi amal. Beliau menjadi teladan tentang bagaimana seseorang dapat menghabiskan umurnya bukan dalam kelelahan mengejar dunia, tetapi dalam lelah yang penuh makna – lelah yang akan disambut surga. Dan hari ini, langkah beliau telah sampai di ujung perjalanan dunianya, melangkah menuju Allah dengan catatan amal yang kami yakin sangat baik di sisi-Nya. Sesungguhnya kita semua sedang menuju Allah, satu langkah demi satu langkah. Tetapi banyak di antara kita yang lupa bahwa perjalanan ini tidak bisa ditunda, tidak bisa disesuaikan dengan rencana-rencana duniawi. Kita terlalu sibuk menyusun daftar keinginan dunia, padahal tiket kepulangan kita bisa saja telah dicetak tanpa kita tahu. Sebagian mengira kematian masih jauh, karena merasa sehat dan kuat. Sebagian merasa terlalu muda untuk bersiap. Padahal ajal tidak menunggu usia, jabatan, atau pencapaian. Ia datang ketika waktu telah cukup. Maka persiapkanlah diri. Karena pada akhirnya, semua manusia akan kembali kepada Allah, tak seorang pun yang tinggal. كَيۡفَ تَكۡفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمۡ أَمۡوٰتًا فَأَحۡيَٰكُمۡ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ “Bagaimana kamu mengingkari Allah, padahal kamu (dahulu) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali; kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 28) Tahun baru hijriah ini seharusnya bukan sekadar momentum mengganti kalender. Ia adalah pengingat bahwa waktu terus bergerak, dan kita sedang bergerak menuju Allah. Jadikan setiap harimu sebagai langkah yang lebih dekat kepada-Nya. Perbanyak amal saleh, isi waktu dengan kebaikan, dan bersiaplah untuk pulang – MENUJU ALLAH.