Memberi, Kunci Keberkahan Hidup di Dunia dan Akhirat Tim Redaksi, 18/10/2025 Pesan Dakwan Prof Veni Hadju DI SEBUAH sudut kampung yang tenang, tinggal seorang perempuan lanjut usia bernama Ibu Rahmah — bukan nama sebenarnya. DAFTAR ISI Toggle Kekuatan Spiritual dalam Sifat MemberiKetika Memberi Menjadi UjianJalan Menuju Hidup yang Penuh Berkah Di usianya yang telah menginjak 85 tahun, beliau tetap dikenal sebagai sosok sederhana namun berhati besar. Setiap sore, ia duduk di depan rumahnya dengan senyum lembut, menunggu anak-anak tetangga lewat untuk menerima bingkisan kecil berupa makanan yang baru saja dimasaknya. Beberapa hari lalu, Ibu Rahmah dipanggil pulang oleh Sang Pencipta. Ia ditemukan wafat dalam posisi duduk di kursi, sambil memegang tas kresek berisi makanan ringan — sedekah yang tak sempat ia berikan. Subhanallah, betapa indah akhir kehidupannya. Ia berpulang dalam keadaan MEMBERI, bukan meminta. Semoga Allah menutup kehidupannya dengan husnul khatimah. Kekuatan Spiritual dalam Sifat Memberi Kisah sederhana ini menyimpan pelajaran mendalam tentang hakikat berbagi. Dalam pandangan Islam, memberi bukan sekadar tindakan sosial, tetapi ibadah yang mengundang rahmat Allah. Banyak ulama menegaskan bahwa memberi — terutama dalam bentuk makanan — adalah amal yang pahalanya berlipat ganda, sebab ia langsung menyentuh kebutuhan dasar manusia. Allah menanamkan keberkahan pada tangan yang suka memberi. Makanan yang dibagikan, sekecil apa pun, bisa menjadi wasilah turunnya ketenangan dan rasa cukup. Tak heran, sering kali kita melihat orang-orang yang hidupnya sederhana, bahkan serba terbatas, namun wajah mereka memancarkan kedamaian. Rahasianya terletak pada kerelaan memberi, bukan pada banyaknya harta yang dimiliki. Ketika Memberi Menjadi Ujian Namun, tidak semua orang mudah untuk memberi. Dalam diri manusia, selalu ada dorongan untuk merasa kurang — berapa pun rezeki yang telah Allah limpahkan. Keinginan untuk menambah dan menumpuk sering kali mengalahkan niat untuk berbagi. Karena itu, orang beriman diwasiatkan agar melatih diri untuk memberi, bahkan di saat merasa kekurangan. Al-Qur’an menggambarkan dengan sangat menyentuh penyesalan orang yang terlambat menyadari makna memberi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’” (QS. Al-Munafiqun [63]: 10) Ayat ini mengingatkan bahwa sedekah adalah kesempatan hidup, bukan penyesalan setelah mati. Mereka yang enggan memberi selama hidupnya akan berharap agar kematian ditunda, hanya untuk bisa bersedekah walau sedikit. Jalan Menuju Hidup yang Penuh Berkah Sifat suka memberi bukan sekadar amal, tapi cermin kebesaran jiwa. Ia menjauhkan hati dari keserakahan dan menumbuhkan empati sosial. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah — tanda bahwa memberi lebih mulia daripada menerima. Ketika seseorang memberi, sesungguhnya ia sedang menanam benih keberkahan bagi dirinya sendiri. Harta yang disedekahkan tidak berkurang, melainkan bertambah dalam bentuk ketenangan batin, keberlimpahan rezeki, dan ridha Allah yang menyelimuti kehidupannya. Karena itu, berjuanglah untuk memiliki sifat suka memberi, sekecil apa pun bentuknya. Sebab di balik setiap pemberian yang tulus, terdapat doa yang terpanjat, keberkahan yang mengalir, dan pahala yang abadi hingga akhirat kelak. “Berjuanglah untuk memiliki sifat suka memberi, karena di sanalah terletak kunci keberkahan hidup di dunia dan akhirat.”