Paradoks Imam Syafi’i dan Kompleks Mummy Fir’aun Tim Redaksi, 06/11/2025 Oleh: AP Moenta Nama imam ini sering saya dengar dan bahkan sering saya sebut. Atas izin Allah, saya diberi kesempatan berkunjung ke makam dan masjid ulama besar yang sangat terkenal di dunia Islam dan memiliki banyak pengikut, termasuk di Indonesia. Dialah Imam Syafi’i, di Mesir, pada 5 November 2025. Di sekitar makam dan Masjid Imam Syafi’i, terdapat banyak makam orang Mesir. Saat saya melintas tadi siang, tampak beberapa di antaranya mulai dibongkar karena kurang terurus. Memang, kawasan ini terlihat kumuh, termasuk jalan menuju makam dan masjid Imam Syafi’i. Sebaliknya, saat berkunjung ke kompleks Mummy Firaun, pemandangannya sangat berbeda. Bangunannya modern, tertata rapi dengan teknologi informasi yang canggih, serta dijaga dengan baik oleh aparat. Selain itu, tempat tersebut ramai dikunjungi masyarakat, pelajar, dan turis. Sementara itu, pengunjung ke makam dan Masjid Imam Syafi’i sangat sedikit. Mengapa perbedaannya begitu kontras? Inilah yang perlu direnungkan dan dicari penjelasan yang lebih mendalam. Insyaallah, besok saya akan menanyakan hal ini kepada tour leader yang mendampingi kami, rombongan KAHMI Makassar, dalam perjalanan Umrah Plus Mesir tanggal 4–19 November 2025. Inilah kunjungan kami pada hari pertama. Kami juga telah mengunjungi Masjid Amr Ibn Al-As, yang terletak (seperti juga makam dan Masjid Imam Syafi’i) di Kairo Selatan. Masjid Amr ini relatif rapi, terawat, dan memiliki bangunan yang lebih besar. Dalam perjalanan tadi, kami melewati Sungai Nil yang membelah kota Kairo Selatan. Tidak seperti sungai di Indonesia, Sungai Nil tampak tidak digunakan untuk keperluan irigasi pertanian, melainkan mungkin hanya untuk kebutuhan air minum. Maklum, Mesir merupakan negeri yang didominasi pegunungan batu yang kering dan berdebu. Karena itu, hampir seluruh rumah dan apartemen di sini berwarna cokelat, menyesuaikan dengan warna debu yang kerap beterbangan. Berbeda dengan Yunani, saat saya berkunjung pada tahun 2023 lalu, hampir seluruh rumah di sana berwarna putih. Entah apa alasan di balik pilihan warna itu—mungkin ada filosofi tersendiri. Sementara di Indonesia, warna rumah bebas dipilih sesuai selera pemiliknya. Mesir dikenal sebagai “kota seribu masjid”, tetapi pemandangan yang tampak justru juga bisa disebut sebagai “kota seribu apartemen.” Di sisi kanan dan kiri jalan utama (jalan tol), tampak deretan apartemen berwarna cokelat. Warna apartemen yang suram mungkin disebabkan debu yang menempel di udara Kairo bagian selatan. Menurut tour leader kami, dalam setahun hanya turun hujan sekitar tiga kali, dan itu pun hanya berlangsung sekitar sepuluh menit. Maka, tidak heran jika debu sulit hilang dari permukaan bangunan. Sekian dulu catatan hari ini. Semoga dapat disambung pada hari-hari berikutnya. (*)