Ketika Cahaya Iman Menembus Kegelapan Hati Tim Redaksi, 18/06/202518/06/2025 Pesan Dakwah Prof. Veni Hadju DALAM perjalanan spiritual manusia, iman sering kali lahir dari titik paling gelap dalam kehidupan—keraguan, keresahan, bahkan penolakan terhadap keberadaan Tuhan. Salah satu kisah yang menggambarkan perjalanan menakjubkan ini datang dari seorang profesor matematika di Amerika Serikat, Prof. Jeffrey Lang. Pada awalnya, beliau adalah seorang ateis, seorang ilmuwan rasional yang tidak percaya pada Tuhan. Namun tahun 1982 menjadi titik balik hidupnya. Secara tak terduga, seorang sahabat menghadiahkan beliau sebuah terjemahan Al-Qur’an. Niat awalnya hanya ingin memahami apa yang sebenarnya diyakini umat Islam. Namun, ketika membaca ayat demi ayat, ia terhenti pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, tentang percakapan antara Allah dan malaikat mengenai penciptaan manusia. Ia merasa seperti sedang diajak berdialog langsung oleh Tuhan. Banyak pertanyaan mendalam yang selama ini tak terjawab dalam benaknya, tiba-tiba ia temukan jawabannya dalam Al-Qur’an. Dari sana, iman mulai tumbuh dalam hatinya. Ia merasakan kehadiran Tuhan yang nyata. Hidupnya berubah. Ia menemukan makna, ketenangan, dan arah hidup. Kini, Prof. Lang menjadi seorang Muslim yang taat dan bahkan telah menulis berbagai buku yang mencerahkan banyak orang tentang Islam. Inilah bukti bahwa iman bukan warisan, melainkan cahaya yang menyapa hati yang terbuka. Bagi setiap Muslim, iman adalah dasar dari seluruh amal dan ibadah. Iman bukan hanya pengakuan lisan, tapi keyakinan yang tertanam dalam hati dan tercermin dalam perbuatan. Dalam kehidupan, iman menjadi kompas moral, penuntun dalam membedakan kebaikan dan keburukan. Semua perintah agama selalu mengandung manfaat, dan setiap larangan menghindarkan kita dari keburukan. Namun, iman itu dinamis. Kadang kuat, kadang melemah. Ia bisa tumbuh dengan ketaatan, dan bisa luntur karena dosa serta kelalaian. Itulah sebabnya Al-Qur’an sering kali memanggil orang-orang beriman: “Yaa ayyuhalladziina aamanuu...”—sebuah seruan kasih sayang agar kita terus memperkuat keimanan dan meningkat menuju derajat takwa. Allah hanya menerima amal kebaikan yang dilandasi iman. Tanpa iman, amal tak bermakna di sisi-Nya. Di bulan Ramadhan ini, Allah memberikan kesempatan emas bagi setiap hamba untuk kembali—memperbaharui iman, memperkuat hubungan spiritual, serta memperbanyak amal. Allah bukakan pintu ampunan selebar-lebarnya dan curahkan rahmat tanpa batas. Maka sayang sekali jika Ramadhan ini berlalu tanpa perubahan berarti dalam diri kita. Masih banyak di antara kita yang jarang menyentuh mushaf, bahkan enggan menyimak isi kandungan Al-Qur’an. Padahal, di dalamnya ada petunjuk bagi segala persoalan hidup. Sungguh menyedihkan jika kaum Muslimin justru menjadi golongan yang disebut dalam firman Allah: وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى ٱتَّخَذُوا۟ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ مَهْجُورًا “Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.’” (QS. Al-Furqan: 30) Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momentum memperkuat iman. Bangun kembali hubungan yang mesra dengan Al-Qur’an. Telusuri ayat-ayatnya, resapi pesan-pesannya, dan hadirkan maknanya dalam keseharian. Jangan sampai Ramadhan datang dan pergi tanpa mengubah hati, memperbaiki akhlak, dan memperkuat keyakinan kepada Allah. Tingkatkan iman kita dengan menelusuri ayat demi ayat dalam Al-Qur’an di bulan mulia ini. Karena hanya dengan iman, amal kita akan diterima dan hati kita menemukan kedamaian sejati. (*)