Skip to content
PERCIK KAHMI Makassar
KAHMI Makassar
  • Home
    • Berita
    • Artikel
  • Tentang Percik
  • Kirim Artikel
  • KAHMI Makassar
  • FORHATI Makassar
PERCIK KAHMI Makassar
KAHMI Makassar

Gaza Palestina

Tangisan Anak Gaza dan Kematian Nurani Para Pemimpin Arab

Tim Redaksi Tim Redaksi, 24/06/2025

GAZA kembali menjerit dalam gelombang genosida yang belum kunjung usai. Per 15–16 Juni 2025, jumlah korban tewas telah melampaui 55.000 jiwa, dan lebih dari 128.000 orang terluka.

Korban kebanyakan adalah perempuan, anak-anak, dan warga sipil tak berdosa. Tak hanya jiwa yang melayang, namun 92% infrastruktur—termasuk rumah, rumah sakit, masjid, dan sekolah—telah rata dengan tanah.

DAFTAR ISI

Toggle
  • ‘Ashabiyah: Fanatisme Jahiliah yang Mematikan Nurani
  • Penguasa Culas, Penjaga Perbatasan Penjajah
  • Solusi Hakiki: Tegaknya Khilafah yang Menjadi Perisai Umat

Namun, yang lebih menyayat adalah bisu dan dinginnya respons para penguasa dunia Islam. Di tengah darah dan air mata umat, para pemimpin negeri-negeri Muslim justru berlindung di balik diplomasi kosong dan pernyataan basa-basi.

Allah SWT berfirman:

“Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian…” (TQS al-Baqarah [2]: 190)

Ayat ini menegaskan, saat tanah kaum Muslim diserang, jihad fi sabilillah menjadi fardu ‘ain—kewajiban individu. Gaza bukan hanya konflik kemanusiaan, melainkan ujian keimanan bagi seluruh umat Islam.

Para ulama besar sejak masa awal Islam seperti Imam Ibnu Qudamah, an-Nawawi, dan al-Mawardi telah sepakat: jika tanah kaum Muslim dijajah dan penduduknya tak mampu membela diri, maka kewajiban membela itu meluas kepada seluruh kaum Muslim, tanpa mengenal batas negara.

Namun kini, di hadapan penderitaan saudara-saudara kita, kesatuan umat terganjal oleh sekat bernama nation-state dan nasionalisme sempit.

‘Ashabiyah: Fanatisme Jahiliah yang Mematikan Nurani

Sikap dingin banyak penguasa Muslim hari ini mencerminkan fanatisme ‘ashabiyah—sebuah penyakit lama yang diwarisi dari zaman jahiliah.

Nasionalisme dan sistem negara-bangsa telah menjadikan umat terpecah dan apatis. Derita Gaza dianggap “bukan urusan kita”.

Padahal Rasulullah saw. telah bersabda:

“Bukan golongan kami orang yang menyerukan ‘ashabiyah, bukan golongan kami orang yang berperang karena ‘ashabiyah, bukan golongan kami orang yang mati di atas ‘ashabiyah.” (HR Abu Dawud)

Dalam Islam, persatuan bukan dibangun atas dasar tanah, ras, atau bendera, tetapi aqidah. Allah telah menegaskan:

“Sungguh orang-orang beriman itu bersaudara.” (TQS al-Hujurat [49]: 10)

Sayangnya, sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah pada 1924, umat Islam telah dipisah oleh peta buatan penjajah. Tragedi Palestina, Suriah, Rohingya, dan lainnya hanya menjadi “isu luar negeri”, bukan panggilan iman.

Ini adalah hasil dari politik warisan kolonial seperti Perjanjian Sykes-Picot, yang mengunci umat dalam pagar kebangsaan sempit.

Penguasa Culas, Penjaga Perbatasan Penjajah

Tragedi Gaza bukan hanya tentang kezaliman penjajah Zionis, tapi juga pengkhianatan para penguasa Muslim. Mereka bukan hanya pasif, tapi justru aktif menghalangi bantuan, menutup pintu, menangkapi demonstran, dan memadamkan semangat jihad umat.

Mesir, misalnya, menutup pintu Rafah—satu-satunya gerbang keluar Gaza—sementara anak-anak Palestina dibantai. Rezim-rezim Arab lain bahkan telah menormalisasi hubungan dengan Israel, berpelukan di forum internasional, sementara rakyat Palestina disayat oleh rudal buatan Barat.

Islam mengutuk para penguasa yang bersekongkol dengan kezaliman. Allah SWT berfirman:

“Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim, nanti kalian disentuh api neraka.” (TQS Hud [11]: 113)

Nabi saw. bersabda:

“Siapa yang melihat orang zalim lalu tidak menghentikannya, maka Allah hampir menimpakan azab kepada mereka semua.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Diamnya para penguasa terhadap genosida di Gaza bukanlah netralitas, tapi pengkhianatan. Mereka rela menukar darah saudara dengan kestabilan kursi kekuasaan.

Solusi Hakiki: Tegaknya Khilafah yang Menjadi Perisai Umat

Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai; umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim)

Penguasa-penguasa saat ini gagal menjalankan fungsi itu. Maka, bukan hanya penguasanya yang harus diganti, tetapi sistemnya. Sistem negara-bangsa yang memecah belah umat harus digantikan oleh sistem Khilafah Islamiyah ‘alaa minhaj an-nubuwwah.

Khilafah bukan sekadar simbol, tapi sistem nyata yang akan menyatukan umat, memobilisasi kekuatan militer, ekonomi, dan diplomasi, serta menjadikan pembebasan tanah suci Palestina sebagai agenda negara, bukan sekadar slogan.

Tanpa sistem yang menjamin kesatuan dan kekuatan umat, seruan pembebasan Palestina hanya akan menjadi gema emosional yang memudar.

Tragedi di Gaza adalah ujian sejarah bagi umat Islam: apakah kita masih satu tubuh, atau sudah membusuk oleh sekat-sekat buatan? Apakah kita akan terus menonton, atau bangkit mengambil peran?

Saatnya umat Islam mengakhiri era pengkhianatan para penguasa dan merintis kembali jalan kemuliaan yang pernah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah.

Jalan itu bukan lain adalah tegaknya Khilafah, yang benar-benar akan menjadi pelindung kaum lemah dan pembebas bumi para Nabi.

Allah SWT berfirman:

“Apa alasan kalian tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas dari kalangan laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkan kami dari negeri yang penduduknya zalim…’” (TQS an-Nisa’ [4]: 75)

Palestina tidak akan pernah bebas selama kita terus terikat pada sistem kufur yang membelenggu kekuatan umat. Maka, membebaskan Palestina harus dimulai dengan membebaskan umat dari sistem yang mengkhianatinya. (*)

*Disarikan dari: ʙᴜʟᴇᴛɪɴ ᴋᴀғғᴀʜ ᴇᴅɪsɪ 398, 24 ᴅᴢᴜʟʜɪᴊᴊᴀʜ 1446 ʜ/20 ᴊᴜɴɪ 2025 ᴍ

Tentang PERCIK

PERCIK dikelola oleh MD KAHMI Kota Makassar, didedikasikan bagi segenap warga KAHMI untuk berbagi berita, opini dan informasi terbaru yang berkaitan dengan eksistensi dan kegiatan organisasi KAHMI. Kirimkan press release berita, artikel atau opini Anda melalui form ini.

PERCIKAN BARU

  • Menghindari Terciptanya Negara Kartel

    Menghindari Terciptanya Negara Kartel

  • Lembaga Sosio Kontrol yang Tumbang

    Lembaga Sosio Kontrol yang Tumbang

  • Begini Solusi Sistemik Islam dalam Penanganan Kejahatan Seksual

    Begini Solusi Sistemik Islam dalam Penanganan Kejahatan Seksual

  • Bersegeralah Kembali ke Jalan Allah

    Bersegeralah Kembali ke Jalan Allah

  • Solusi Islam Mengatasi Krisis Kepemimpinan Nasional

    Solusi Islam Mengatasi Krisis Kepemimpinan Nasional

RSS feed: BERITA KAHMI MAKASSAR BERITA KAHMI MAKASSAR

  • Dilantik Hari Ini, Lima Kader KAHMI Makassar Emban Jabatan Strategis di Unhas
  • Baksos KAHMI Makassar Disambut Antusias Warga Pangkep, Ratusan Pasien Terlayani
  • Songsong Milad ke-60, KAHMI Makassar Bakal Gelar Baksos Kesehatan di Pangkep
  • KAHMI Makassar Salurkan Sembako ke Panti Asuhan dan Kampung Binaan di Bulan Ramadan 1447H
  • Ceramah di Tarwih KAHMI Makassar, Prof Marsuki DEA Soroti Pergeseran Ekonomi Global

JANGAN LEWATKAN

  • Juara Dunia, Juara Akhirat
  • Bersabar, Kunci Menghadapi Ujian Hidup
  • Guru Hebat, Pondasi Karakter dan Peradaban
  • Pertemuan Terakhir yang Menjadi Awal Kehidupan Abadi
  • Dunia yang Megah, Akhirat yang Kekal: Renungan dari Tanah Suci
©2026 KAHMI Makassar