Puasa Daud, Terapi Ilahi yang Menyembuhkan Tim Redaksi, 22/10/2025 Pesan Dakwah Prof Veni Hadju BEBERAPA waktu lalu saya bertemu seorang sahabat lama, sebut saja Ibu Rahmi (bukan nama sebenarnya), seorang dosen senior di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar. DAFTAR ISI Toggle Puasa dan AutophagyPuasa Daud dalam Perspektif IbadahPuasa sebagai Terapi Penyakit ModernPesan Al-Qur’anPenutup Wajahnya tampak segar dan semangatnya memancar. Ia bercerita bahwa dua pekan terakhir ia menjalani Puasa Daud, yakni puasa sehari dan berbuka sehari. Yang menarik, beliau mengatakan bahwa pembesaran tiroid yang sempat dideritanya kini mulai mengecil. Ini bukan pengalaman pertamanya. Sekitar sepuluh tahun lalu, ketika ditemukan beberapa benjolan kecil di payudara kanan dan kiri, ia memilih berpuasa daripada menjalani operasi. Setelah tiga bulan disiplin melaksanakan Puasa Daud, benjolan itu perlahan menghilang. Bagi sebagian orang, kisah ini terdengar seperti keajaiban. Namun kini, banyak penelitian ilmiah yang mulai mengungkap bahwa puasa memang memiliki efek terapeutik nyata bagi tubuh manusia. Puasa dan Autophagy Dalam dunia medis modern, manfaat puasa banyak dikaitkan dengan proses autophagy—ditemukan oleh ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang memperoleh Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran tahun 2016 atas penelitiannya tentang mekanisme pembersihan diri sel ini. Secara sederhana, autophagy (berasal dari bahasa Yunani: auto = diri sendiri, phagein = memakan) berarti “proses sel memakan dirinya sendiri.” Namun bukan dalam arti destruktif, melainkan pembersihan alami di mana sel-sel tubuh memecah dan mendaur ulang bagian-bagian yang rusak, racun, serta zat asing yang membahayakan tubuh. Ketika seseorang berpuasa, kadar insulin menurun dan tubuh mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi. Pada fase ini, sel-sel akan mengaktifkan mekanisme autophagy yang berperan seperti “penyapu raksasa”, membersihkan dan memperbaiki jaringan tubuh dari dalam. Banyak penelitian, termasuk yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine (2019) dan Cell Metabolism (2020), membuktikan bahwa puasa berkala (intermittent fasting) dapat membantu memperbaiki metabolisme, mengurangi peradangan, dan bahkan menurunkan risiko penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes, serta gangguan jantung. Puasa Daud dalam Perspektif Ibadah Islam telah mengajarkan puasa bukan hanya sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai bentuk disiplin diri dan pengendalian nafsu. Puasa Ramadan adalah kewajiban, namun Rasulullah ﷺ juga mengajarkan berbagai bentuk puasa sunnah, di antaranya Puasa Daud—yang dilakukan sehari puasa, sehari berbuka. Rasulullah bersabda: “Puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud; beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Bukhari dan Muslim) Puasa Daud bukan hanya melatih fisik, tetapi juga menyeimbangkan aspek spiritual dan mental. Dalam konteks kesehatan, pola ini sejalan dengan konsep “intermittent fasting 24-hour cycle” yang kini populer di dunia medis. Bedanya, umat Islam melakukannya dengan niat ibadah dan penuh kesadaran akan janji pahala. Puasa sebagai Terapi Penyakit Modern Banyak penelitian medis modern telah menegaskan manfaat puasa bagi penderita berbagai penyakit metabolik seperti obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, dan dislipidemia. Studi oleh National Institute on Aging (AS, 2021) menunjukkan bahwa puasa membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan memperlambat proses penuaan sel. Sementara itu, penelitian oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health (2020) menemukan bahwa pola makan terbatas waktu (time-restricted feeding) yang menyerupai Puasa Daud dapat meningkatkan fungsi kognitif dan memperpanjang umur sel otak. Namun, perlu diingat bahwa puasa sebagai terapi harus dilakukan dengan bimbingan dokter, terutama bagi penderita penyakit kronis. Iman dan ilmu harus berjalan beriringan. Seperti sabda Rasulullah ﷺ: “Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi) Pesan Al-Qur’an Allah ﷻ berfirman: يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٍ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُواْ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaian terbaikmu ketika memasuki masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31) Ayat ini bukan hanya peringatan spiritual, tetapi juga panduan kesehatan universal. Islam mendorong keseimbangan dalam konsumsi, pola hidup, dan pengendalian diri. Dalam konteks modern, inilah inti dari lifestyle medicine yang kini diakui oleh para ahli kesehatan dunia. Penutup Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi proses penyucian tubuh dan jiwa. Di satu sisi, ia memperbaiki fungsi tubuh secara ilmiah; di sisi lain, ia menumbuhkan ketenangan batin dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Maka benar sabda Nabi ﷺ bahwa “puasa adalah perisai” (HR. Bukhari)—pelindung bagi tubuh dari penyakit, dan pelindung bagi hati dari nafsu serta kezaliman diri. Berobatlah dengan puasa, karena di dalamnya terdapat keajaiban yang telah terbukti — baik oleh iman, maupun oleh ilmu. (*)