Memuliakan Bulan Haram, Menjaga Diri dari Dosa Tim Redaksi, 05/01/2026 Pesan Dakwah Prof Veni Hadju DALAM satu tahun, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menetapkan empat bulan istimewa yang dikenal sebagai bulan haram, yaitu Zulkaidah, Zulhijjah, Muharam, dan Rajab. Tiga bulan pertama memiliki keterkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji, sementara bulan Rajab sejak dahulu sering dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah umrah. Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat tercatat melaksanakan umrah pada bulan Rajab. Ketentuan untuk memuliakan empat bulan ini sejatinya telah dikenal oleh masyarakat Arab sejak masa sebelum Islam. Mereka menjauhi peperangan pada bulan-bulan tersebut sebagai bentuk penghormatan. Para ulama kemudian menjelaskan bahwa pada bulan-bulan haram, amal saleh dilipatgandakan pahalanya, sementara perbuatan dosa mendatangkan balasan yang lebih berat. Inilah tanda kemuliaan waktu yang Allah tetapkan. Saat ini, kita berada di bulan Rajab, salah satu bulan haram yang penuh keberkahan. Banyak nasihat dan pencerahan dari para ulama agar bulan ini dimuliakan dengan ibadah yang benar dan sesuai tuntunan. Di antaranya adalah memperkuat pemahaman tauhid dan sunnah, terutama untuk meluruskan berbagai praktik keliru yang masih beredar di tengah masyarakat—ibadah yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ. Selain itu, bulan ini adalah momentum untuk mengoptimalkan ibadah: meningkatkan kualitas amal hati, menjaga shalat wajib berjamaah di masjid pada awal waktu, memperbanyak membaca dan mengkaji Al-Qur’an, serta bersungguh-sungguh menjauhkan diri dari dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Kita tentu sangat berharap dapat memuliakan bulan haram ini sebaik-baiknya. Ia hanya hadir sekali dalam setahun, dan tidak ada jaminan kita masih dipertemukan dengannya pada tahun-tahun berikutnya. Karena itu, menjaga lisan, hati, dan pikiran menjadi kunci agar potensi kebaikan yang Allah berikan benar-benar menghasilkan pahala, bukan sebaliknya. Namun, jalan kebaikan tidak pernah sepi dari ujian. Setan terus menggoda, dan hawa nafsu kerap mendustakan niat baik yang telah tumbuh. Di sinilah pentingnya doa, terutama pada waktu-waktu mustajab, agar Allah meneguhkan hati kita dalam ketaatan. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu… Dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah [9]: 36) Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan waktu adalah bagian dari agama yang lurus, dan sikap terbaik di dalamnya adalah menjaga diri dari kezaliman serta memperkuat ketakwaan. TINGKATKAN PENGAMALAN IBADAH DI BULAN MULIA INI, DAN TERUSLAH BERDOA AGAR ALLAH MENJAUHKAN KITA DARI DOSA.