Antara Masjid Terbesar dan Hari Terbesar Tim Redaksi, 18/06/2025 Pesan Dakwah Prof. Veni Hadju BAYANGKAN berdiri bersama empat juta saudaramu dari berbagai penjuru dunia. Bersujud dalam keheningan Masjidil Haram, merunduk dalam rukuk yang serempak, merasakan getaran iman yang menyatu dalam satu gerakan, satu tujuan, dan satu harapan: mengharap ridha Allah. Masjidil Haram di Makkah, masjid TERBESAR di dunia, menjadi saksi kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta. Di urutan kedua, Masjid Nabawi di Madinah menampung hingga satu juta jiwa. Dua rumah suci ini, tidak hanya megah dalam ukuran fisik, tapi juga dalam getaran spiritual yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Tempat sujud para nabi, tempat bertemunya umat dari berbagai bangsa, warna kulit, dan bahasa. Di sinilah kebesaran Islam terpancar, bukan hanya dari bangunannya yang luas, tapi dari kesatuan hati orang-orang yang datang karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun di balik kemegahan itu, ada pelajaran yang lebih besar. Kota Makkah kini telah bertransformasi menjadi kota dunia. Hotel-hotel mewah mengelilingi Masjidil Haram, pusat-pusat perbelanjaan internasional menyapa para peziarah, dan kawasan Mina menjadi perkemahan TERBESAR di dunia saat musim haji tiba. Dunia seolah menunjukkan bahwa manusia mampu menciptakan keagungan, membangun megastruktur, menaklukkan keterbatasan fisik. Tapi pertanyaannya: untuk apa semua itu jika lupa pada tujuan akhir? Allah tidak melarang kita untuk membangun, mengembangkan teknologi, dan menikmati keindahan dunia. Tapi semua itu harus ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan utama. Karena pada akhirnya, akan datang satu momen yang tak terhindarkan — hari TERBESAR, yaitu hari ketika dunia dihentikan, langit digulung, gunung dihancurkan, dan manusia dibangkitkan untuk dihisab satu per satu. Allah mengingatkan dalam surat An-Naba: “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui.” (QS. An-Naba: 1–5) Itulah an-naba’il ‘azhim, kabar TERBESAR yang manusia banyak abaikan — hari kiamat. Hari ketika semua yang megah di dunia ini akan sirna. Maka, kemegahan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, perkemahan Mina, atau gedung pencakar langit di Makkah, semuanya akan hancur pada saatnya. Ramadan adalah momen terbaik untuk mengingat Hari Terbesar itu. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengajak kita semua berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan bertanya pada diri sendiri: sudah cukupkah bekal kita untuk kehidupan setelah dunia? Berapa banyak amal yang sudah kita siapkan? Sudahkah kita menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan kubangan kesenangan? Sebab, ketika hari TERBESAR itu tiba, hanya amal yang akan menyelamatkan, bukan gelar, bukan harta, bukan jabatan, dan bukan bangunan megah yang pernah kita tinggali. Akan datang Hari Besar sebagai tanda berakhirnya dunia ini. Maka bersiaplah, bukan dengan emas dan properti, tapi dengan amal terbaik yang tidak akan sirna. (*)