Pertemuan Terakhir yang Menjadi Awal Kehidupan Abadi Tim Redaksi, 18/06/2025 Pesan Dakwah Prof Veni Hadju KEMARIN, seorang tetangga saya kembali ke pangkuan Ilahi dalam usia 78 tahun. Seorang guru yang telah pensiun sejak 2010, namun tak pernah berhenti mengajar dalam bentuk lain: dengan amal, dengan nasihat, dengan kehadiran yang menyejukkan. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah, tekun di masjid, dan sangat dekat dengan keluarganya. Bahkan, dalam detik-detik terakhirnya, ia masih sempat berbicara seperti biasa, dikelilingi oleh anak-anak dan cucu-cucunya. Tak lama setelah itu, ia menghembuskan napas terakhir, lalu segera dimakamkan—seolah bersiap BERJUMPA dengan Tuhan yang selama ini ia sembah dengan penuh cinta dan keikhlasan. Kisah ini mengajarkan kita satu hal penting: setiap orang sedang berjalan menuju satu pertemuan yang pasti, yaitu perjumpaan dengan Tuhannya. Dalam hidup ini, mungkin kita bertemu banyak orang: keluarga, sahabat, rekan kerja, guru, murid, bahkan musuh. Tapi tidak ada satu pun pertemuan yang sepenting pertemuan kita dengan Allah. Kematian bukan akhir, tapi gerbang menuju perjumpaan agung itu. Kita mungkin bisa menunda pertemuan dengan manusia karena alasan waktu atau kesibukan, tetapi kita tidak bisa menunda pertemuan dengan Tuhan. Tidak ada yang bisa menolong atau menyelamatkan kita pada saat itu, kecuali amal saleh yang kita bawa. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Insyiqaq (84:6-12), setiap manusia telah bekerja keras sepanjang hidupnya, dan akhirnya pasti akan BERJUMPA dengan Tuhannya. Ada yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanan, lalu kembali kepada keluarganya dalam kegembiraan. Tapi ada pula yang menerimanya dari belakang, lalu menjerit, “Celakalah aku!”, dan dilemparkan ke dalam api yang menyala. Perjumpaan itu akan sangat berbeda bagi setiap orang, tergantung bekal yang dibawanya. Maka, persiapkanlah diri kita untuk perjumpaan itu, sebagaimana seseorang bersiap bertemu dengan orang yang paling ia cintai. “Ya Allah, jadikanlah hari perjumpaan kami dengan-Mu sebagai hari terbaik dalam hidup kami. Hari di mana Engkau sambut kami dengan senyum kasih sayang dan bukan murka-Mu.” Syawal ini masih menjadi momen refleksi. Kita telah melewati Ramadan dengan puasa, ibadah, dan harapan akan ampunan. Tapi ujian sesungguhnya baru dimulai. Apakah semangat kebaikan itu tetap hidup setelah Ramadan? Apakah amal kita cukup untuk menjadi tiket perjumpaan yang membahagiakan di akhirat? Mari kita hidup dengan orientasi akhirat. Jangan biarkan kesibukan dunia menutupi pandangan kita terhadap realitas abadi: bahwa suatu hari kita akan kembali. Bahwa satu per satu dari kita akan berpulang, dan tak ada yang lebih indah daripada berpulang dalam keadaan husnul khatimah—disambut dengan rahmat dan kebahagiaan yang tiada tara.