Ikhlas, Ketika Hati Tertambat Hanya pada Allah Tim Redaksi, 18/06/202518/06/2025 Pesan Dakwah Prof. Veni Hadju MASIH terpatri dalam ingatan sebuah kisah menyentuh tentang seorang pemuda ikhlas yang tinggal di pinggiran desa. Suatu hari, desanya kedatangan rombongan pelajar yang hendak melakukan kegiatan belajar lapangan di hutan sekitar. Mereka ditugaskan mencatat berbagai jenis tanaman yang mereka temui. Dalam keasyikan menjelajah, seorang siswi tersesat dan tertinggal dari rombongan. Hari mulai gelap, dan ia kebingungan mencari pertolongan. Beruntung, ia menemukan sebuah rumah sederhana yang dihuni seorang pemuda. Dengan penuh kepedulian, pemuda itu mempersilakan gadis tersebut untuk bermalam. Ia mempersilakan sang gadis tidur di ranjang satu-satunya, sementara ia sendiri memilih tidur di sudut ruangan. Namun, malam itu bukan malam biasa. Sang gadis, yang masih diliputi rasa takut, tidak dapat memejamkan mata. Dari sudut ruangan, ia melihat pemuda itu melakukan hal yang aneh—berulang kali ia memasukkan jari-jarinya ke dalam nyala lampu minyak. Gadis itu hanya bisa tertegun, tak mengerti. Keesokan paginya, pemuda itu dengan ramah mengantar gadis itu ke pinggir jalan agar ia dapat kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, gadis itu menceritakan semua yang dialaminya kepada kedua orang tuanya, termasuk perilaku aneh pemuda itu di malam hari. Sang ayah, penasaran dan ingin mengucapkan terima kasih, mendatangi rumah pemuda itu. Ia pun melihat jari-jari tangan pemuda itu hangus terbakar. Ketika ditanya, sang pemuda menjelaskan dengan jujur: sepanjang malam, ia bergulat dengan bisikan syaitan yang membisikkan godaan untuk berbuat tak pantas. Untuk melawan godaan itu, ia membakar jarinya, membayangkan betapa pedihnya siksa api neraka, agar dirinya tetap kuat menjaga kehormatan sang gadis. Sang ayah terdiam. Haru membuncah dalam dadanya. Di hadapannya berdiri seorang pemuda yang tidak hanya menjaga kehormatan orang lain, tetapi juga menjaga ikhlas dalam setiap tindakan. Ia tidak mengharap balasan, pujian, atau penghargaan. Ia hanya takut kepada Allah. Maka tanpa ragu, sang ayah melamar pemuda itu untuk menjadi suami bagi putrinya. Sebuah akhir yang indah dari kisah yang berawal dari ketulusan hati. Kisah ini menggambarkan buah dari keikhlasan. Sebuah amal yang dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena manusia. Dalam kehidupan kita, tak jarang kita menjumpai orang yang menolong, membantu, atau memberi, namun terselip harapan akan pujian, pengakuan, atau balasan dunia. Mereka tak segan mengungkit kebaikan mereka, dan sayangnya, pahala amal itu pun lenyap tak bersisa di akhirat, karena sudah “dibayar lunas” oleh pujian manusia di dunia. Padahal, Allah menegaskan dalam firman-Nya: وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa’: 125) Ramadhan mengajarkan kita untuk ikhlas, karena hanya Allah yang tahu kapan kita benar-benar menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Tak ada pujian, tak ada tepuk tangan. Yang ada hanya pengawasan langsung dari Sang Pencipta. Maka, dalam setiap amal kebaikan, luruskan niat. Jangan karena ingin terlihat baik di hadapan manusia, tetapi karena ingin menjadi baik di hadapan Allah. Itulah keikhlasan sejati. Dan hanya dengan ikhlas, amal kita akan sampai kepada-Nya. Berbuatlah dengan ikhlas, hanya berharap ridha Allah.