Gigih dalam Ujian, Kuat dalam Iman Tim Redaksi, 05/01/2026 Pesan Dakwah Prof Veni Hadju NAMANYA Fatimah—tentu bukan nama sebenarnya. Seorang mahasiswa S2 yang baru saja menyelesaikan ujian akhirnya. Ada rasa bahagia yang tulus ketika saya menyaksikan kelulusannya. Dalam hati saya berkata, “Anak ini GIGIH.” Ingatan saya kembali pada momen awal saat mewawancarainya untuk seleksi masuk Program S2. Sejak pertemuan pertama, tampak jelas kemauan yang kuat dalam dirinya. Tidak banyak mahasiswa yang baru lulus S1 langsung berani mendaftar ke jenjang S2. Ketika saya bertanya tentang kesiapan biaya kuliah, ia menjawab dengan mantap bahwa orang tuanya telah berjanji akan menyiapkannya. Namun, kenyataan terkadang tidak seindah rencana. Pada malam hari menjelang batas akhir pembayaran UKT—yang dulu kita kenal sebagai SPP—saya menerima pesan WhatsApp darinya. Dengan bahasa yang sopan dan penuh penyesalan, ia menyampaikan bahwa biaya kuliahnya belum tersedia. Ia meminta maaf karena tidak dapat melanjutkan studi. Saya terdiam. Yang terbayang bukan kegagalan, tetapi semangat yang begitu gigih, sayangnya terhenti oleh keterbatasan biaya. Saya membalas pesannya dan memintanya datang menemui saya di kantor keesokan harinya. Malam itu juga, saya menghubungi beberapa teman yang mungkin bisa membantu. Dalam hati, saya bertekad: dana UKT sebesar sembilan juta rupiah harus terkumpul sebelum batas waktu pendaftaran berakhir. Alhamdulillah, pertolongan Allah datang tepat pada waktunya. Bahkan saya sendiri terkejut melihat bagaimana dana tersebut dapat terkumpul dalam waktu yang begitu singkat. Ketika Fatimah datang keesokan paginya, saya langsung menyampaikan bahwa dana UKT-nya telah tersedia—namun dengan satu syarat: ia harus bekerja paruh waktu sebagai bentuk tanggung jawab atas bantuan tersebut. Ia tersenyum. Ada raut kaget di wajahnya, namun jelas terpancar kebahagiaan dan rasa syukur yang dalam. Tidak banyak orang berani melangkah tanpa kesiapan dana di tangan. Biasanya, hanya mereka yang GIGIH dan memiliki mimpi besar yang berani mengambil risiko seperti itu. Padahal, Allah telah membekali manusia dengan akal, nafsu, dan kehendak untuk meraih cita-cita. Sayangnya, rasa takut sering kali muncul lebih dulu dan melemahkan langkah. Padahal, Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. Dia mengetahui setiap keinginan, setiap usaha, dan setiap air mata yang jatuh dalam perjuangan. Setiap niat baik pasti disertai ujian, dan di sanalah manusia diuji untuk tetap kuat dan bertahan. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman: “Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 139) Ayat ini menegaskan bahwa kekuatan sejati lahir dari iman dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi mereka yang tidak menyerah. JANGAN MENYERAH SAAT HAMBATAN DATANG, KARENA ADA DIA YANG MAHA KUASA MENENTUKAN SEGALANYA.